Sunday, March 18, 2012

You tell me the tittle, Will you ?


Frankly, I ain't intentionally write this blog post for sharing interesting stories about my recently daily activities. I'm not in the mood of writing either particular abstractions or dramatically love stories. I'm just questioning a bunch of unanswered arguments and facts beyond my imagination.


" we are different " - Father

" don't devote yourself chasing the materially imaginative world " Father

" you can deny it, but it will never vanish. now, you are like closed eyes, you can feel it but you can't see it " My Brother

" you are the rebellious one sister " My Brother

" you stand in the border hidden by a great curtain, all the thing you should do is just to pull out that curtain " My Brother.

" you always blame every mistakes on yourself and regret about the past. the bad things came from your own thinkings " My Brother.

" you are potential and down there deep inside you, there's a true nature " Father, Brother.

" I know I'm no one but I assure you if you just say ' yes ' inside your tiny brain, all the thing will change, you'll see everything differently " Arie.


I keep thinking :

CAN I ?

and should I say this :

YES. I WANT THIS WAY.

Sunday, February 26, 2012

Balada Sang Pencari Kerja #1


Siapa sih yang tidak tahu Jakarta? Mayoritas semua penduduk Indonesia pasti menjawab " Tahu! Itu kan ibukota negara kita " Yaa kalau itu saya juga tahu! Tetapi kalo pertanyaannya " Siapa yang sering ke Jakarta dan familiar dengan kotanya? " Saya sudah pasti masuk ke golongan koresponden yang menjawab tidak. Padahal, cuma 3 jam loh ya dari Bandung ke Jakarta. Sudah lebih dari 4 tahun berdomisili di Bandung, kalau dihitung jari total kunjungan saya kesana baru 5 kali. Actually, I never expect going to Jakarta for any reasons. I hate traffic jam, dusty air, and of course its social pressure! Kalaupun saya terpaksa kesana, paling hanya sekedar lewat mau ke airport, menyeberang Kep. Seribu, and something like low-budget traveling. Never let myself imagine how it could be when I should live in that very big city.

Now I'm deathly questioning my own principal decisions since too many excuses I've made in these couple years. Salah satunya dengan mencoba peruntungan di Jakarta, kalau dulu saya menolak mentah-mentah ajakan teman untuk mencoba mencari kerja di Jakarta, sekarang saya malah bolak-balik Jakarta-Bandung hampir tiap minggu entah sekedar Career Days/Job-Fair atau panggilan test/interview. Sebenarnya saya pribadi prefer di Bandung atau Pekanbaru, dua tempat yang menurut saya sederhana, nyaman, and less pressure. Tapi kemudian saya berulang kali berpikir , tidak pantas rasanya menolak dan membatasi pintu rezeki yang diberikan ke kita. Besides, sampai kapan sih saya mau terus bersembunyi di dalam comfort zone? Bukankah hidup itu perjuangan? Dan pejuang itu tidak akan takut hanya dengan persaingan dan tekanan orang lain. Memang tidak selalu soal promising salary kalo bekerja di ibukota, tapi pengalaman hidup yang bakalan membuat semakin matang pasti sangat worth it, kalo meminjam istilahnya teman saya yang bankir " High Risk, High Return ". So, why don't I try?

Tanggal 15 Februari lalu, saya berangkat ke Jakarta untuk ikut bursa tenaga kerja di Senayan City. Perjalanan ini penuh dengan drama dan kebodohan, mencerminkan immature personality dan wanita usia early twenty yang ceroboh. I trace back to 5 or 4 days before and let you know how was this silly job seeking happened.

4-5 Hari Sebelumnya...
Sebenarnya, saya sudah membulatkan tekad untuk pergi dari 2 minggu sebelumnya, tapi karena ternyata sang pacar hari Rabu kuliahnya penuh, mau tidak mau saya harus muter otak bagaimana caranya biar saya tetep bisa pergi? Since, I was afraid and not allowed going to Jakarta alone, I should find somebody whose aim is quiet as desperate as me; finding a job! Jadi, saya ingat temen satu kamar di asrama saya, Echi. Saya kirim Direct Message di Twitter (Sekarang DM sudah seperti sms loh, respon terhadap jalur komunikasi ini cukup cepat) menanyakan apa dia mau ikut job fair. She was agree! Kemudian saya kontak Fella, menanyakan hal yang sama. And hell yeah! She was definitely agree too! Jadi, di otak saya sudah ada gambaran bagaimana perjalanannya, dari Bandung bersama Fella, nanti disuatu tempat di Jakarta kita ketemu Echi yang datang dari Bekasi. Oke! Saya sudah dapat teman-teman untuk nanti ber-gerilya di Sency. Dan lebih excited-nya lagi, temen kita sesama satu kamar asrama dulu, Yasmine dan Dewi akan menyusul untuk ketemuan. Wow! A little reunion, I recalled.

2 hari sebelumnya..
Suddenly I received short message services from Fella, Dia tidak diperbolehkan oleh Sang Ayah untuk berangkat ke Jakarta. Bagaimana ini ceritanya kalau saya yang buta Jakarta harus berangkat sendiri dari Bandung? So, I contacted My Mommy and Daddy asking for immediate suggestion. Ibu saya sih setuju aja saya pergi sendiri tapi sesampainya di Jakarta harus di jemput sama teman di pool travel, sedangkan kalau kata Bapak sih tidak usah berangkat, santai aja tidak usah buru-buru kerja #loh? I was confused. Niat yang sudah dipupuk jadi 100 persen, jauh berkurang menjadi 50 persen. But, I hadn't told Echi yet. Saya pikir saya butuh satu malam buat meyakinkan diri apakah saya harusnya pergi atau tidak.

1 hari sebelumnya..
Setelah semalaman bersitegang dengan urat-urat kepala dan perasaan, paginya saya putuskan untuk tidak jadi berangkat ke Jakarta. I would rather stay calm here in Bandung instead of going alone to unknown unsafe city. So, saya sms Echi dan bilang kalau saya tidak bisa ke Jakarta dan ikut Job-fair. too risky, I said. Echi tidak menerima hal ini dengan mudah, dia terus membujuk saya untuk tetap pergi ke Job-Fair, bahkan dia mencari alternatif jalur bus dari Bekasi yang terdekat dengan pool travel. Well, Thinking all night didn't assure me to one hundred percent believe in my decision. Akhirnya saya mengubah lagi keputusan saya, baiklah, saya ikut, kita akan bertemu di Jakarta! Echi meyakinkan saya untuk bertemu di Blok M (FYI, I didn't even know where was that area before).

Hari H, Tanggal 15 Februari.
Kenapa ya setiap saya mau ada perjalanan yang lumayan jauh, saya selalu kekurangan tidur? Malam itu saya hanya tidur 2 jam, dan terbangun tiba-tiba lewat setengah jam dari alarm setting. Kapan saya matikan alarm nya yaa? Bangun tidur saya tidak langsung mandi, masih merenung. I was confused again, damn it! It was 1, 5 hours before I'd leave to Jakarta. Sudah empat kali loh saya berganti keputusan, hanya dalam 2 hari, oke saya mengaku saya masih labil, but I knew It wa just for my own sake! Saya sms temen saya Yasmin, yang saya tahu pukul 4 pagi pasti sudah bangun. Setelah beberapa kali sms, saya tidak peduli mau berani atau tidak, menyegerakan mandi dan siap-siap. Voila! Pukul setengah 6 saya berangkat ke pool travel Cipaganti Buah Batu. Masalah kembali muncul ketika saya tahu, mobil jurusan Blok M hanya berangkat pukul 10 pagi dan 3 sore. So How? Travel pukul 6 adalah travel jurusan Fatmawati. I'm running out of time. Jadi tanpa pikir banyak saya beli tiket dan 5 menit kemudian masuk ke dalam mobil.

Ketika mobil telah melaju, saya hanya bisa termenung, saya harus kemana biar sampai di Blok M? Saya sms Echi asking for picking me up at Fatmawati, dia bilang bus Bekasi tidak melewati Fatmawati dan dia juga tidak tahu jurusan angkutan umum dari Blok M ke Fatmawati kalau untuk menjemput saya. So where should I go? Just in couple seconds, I realized that I would lead to the middle of nowhere. Darn!


To Be Continued..

Monday, February 20, 2012

Insecure Mind Talks


Saya pernah membisikkan kalimat ke diri saya sendiri " I won't get married until I've pursued my master degree and settled my dream land ". Janji yang rapuh sebenarnya, diucapkan oleh seorang perempuan twenty something, entah dalam keadaan normal atau periode pra-menstruasinya, entah dalam mood yang baik atau 'panas', entah dalam keadaan labil memikirkan masa depan atau sudah konsisten, yang saya tahu saya mau menikah kapan pun itu! Dan tanggal 22 Januari, kalimat itu diuji, salah seorang temen sekelas saya, Yaya, melaksanakan akad nikah and fyi dialah temen sekelas saya yang pertama menikah.Unbelievable! Saya berteriak dalam hati " Why are you such in a rush, dear ? kan gue jadi mau juga! " #loh .

Pagi itu saya iseng membuka recent update di Blackberry Messenger, temen saya Dita ternyata udah jadi reporter social media dadakan dalam rangka pernikahannya si Yaya lengkap dengan foto akad nikah dan live report. Ketika pertama kali melihat poto akad nikah, saya langsung surprise! Yaya kamu cantik banget!!! She's so adorable and I hardly recognize the girl she was on that day! Perasaan saya tidak menentu antara terharu dan bahagia melihat dan memikirkan momen sakral so exciting!, Walaupun bukan saya yang menikah tapi tetap saja rasanya jantung ga karuan dan otak tak berhenti bertanya-tanya, di umur segini? dengan masa muda seperti ini? sudah siapkah?

Saking excited-nya, saya langsung kirim private message ke Dita, saya tanya bener itu temen saya yang tomboy dulu udah nikah duluan dari kita-kita? Gimana enchanted nya dia, dan terakhir tentunya gimana envy nya kita sama yaya, non-sense thingy, but we like it! Awalnya obrolan seputar perasaan haru sekaligus bahagianya kita, tapi makin lama obrolan makin ngalor ngidul seputar malam pertama. Kita malah yang heboh memikirkan bagaimana malam pertamanya Yaya nanti dan surely malam pertama kita sendiri nanti. Pada akhirnya terlihat jelas, dua cewek insecure menghayal bagaimana future fairy-tale wedding mereka dan yang paling tidak penting ' What are you gonna feel of first making love with your husband on your wedding night? ' . Kadang, saya rasa otak saya tidak berkembang, sedikit obrolan nikah langsung menjurus ke pikiran mesum, tapi saya sih menyalahkan hormon, agar terlihat tidak terlalu bersalah.

Obrolan berlanjut ke ' Siapa pendamping gue ? " Nah ini, topik yang paling abstrak, kalau ditanya kapan menikah dan dengan siapa,, pasti teman-teman saya selalu meng-asumsikan si future husband saya itu adalah si pacar. Ya saya maunya dia! (Eh, makin kelihatan seperti tante-tante insecure tidak sih?). Personally, kalo memilih pasangan hidup, pengennya yang benar-benar membuat perasaan nyaman dan secure. Suami idaman itu bisa jadi pemimpin sekaligus sahabat, bukan memperlakukan istri jadi objek kepemilikan dan korban kepatuhan yang berlebih. I don't need a settled rich man who doesn't know how to treat woman well.

Puas tertawa dan terharu, sebenarnya terpikir juga tentang marriage matters. Dulu sebelum lulus, orang tua selalu nanya " Kapan lulus? " Setelah lulus ditanya lagi " Kapan kerja? " tapi di umur perempuan yang sudah melewati masa remaja, 23 tahun, terkadang pertanyaan pekerjaan langsung digabungkan dengan pertanyaan pernikahan, maka jadilah pertanyaan versi lengkapnya " Kapan kerja dan menikah? ". Sudah pasti jawaban diplomatik-nya selalu sama " Belum, Masih mau kerja dulu, nabung dulu " Classically defensive answer.

Tetapi, orang tua saya tidak begitu menekankan dan menetukan harus cepat-cepat, whenever you're ready, you'll be the bride! Dan saya yang kebingungan, kapan saya siapnya? Wong tidur masih rame-rame di kamar Ibu dan masih gelendotan di ketek Ibu! Saya sih yakin tiap individu pasti beda kesiapannya, umur bukan berarti bisa menjamin seseorang pasti dewasa. Jalani saja, mungkin akan ada kejutan tak terduga nantinya, disaat sudah siap maupun tidak siap, dewasa atau tidak dan kondisi yang bagaimanapun, siapa yang tahu rahasia jodoh dan rezeki.



And youth won't come twice, enjoy being wild and unstoppable!

Sunday, February 19, 2012

Pencitraan dan Unfollow

Akhir-akhir ini, Twitter sudah jadi gaya hidup, mau melakukan ini mau melakukan itu selalu di ceritakan dalam 140 karakter. Sebenarnya tidak jadi masalah sih hanya saja, feature follow dan unfollow itu yang mengganggu kesehatan mental masyarakat. Seseorang bisa mem-follow account Twitter seseorang yang dia inginkan, hal ini kodratnya orang tersebut bersedia menerima update tulisan-tulisan dan pemikiran dari yang dia ikuti, harus menanggung risiko dong ya kalo setiap tulisan kadang mengganggu ketenangan sang follower. Mudahnya saja, sang follower bisa menekan tombol unfollow dan langsung terbebas dari neraka yang dia ikuti.

Namun terkadang follow dan di follow ini menjadi masalah besar di keseharian, dan bahkan merusak hubungan pertemanan dan persaudaraan. Penyakit hati bermunculan, dendam dan kesal karena di unfollow kenalan sudah menjadi topik hangat, kelihatannya sepele dan tidak pantas diperdebatkan, tapi pada kenyataannya, how much do the relations have been destroyed by this kinda silly thing? Too much.

Saya sendiri, pribadi sih tidak pernah memperdebatkan masalah follow-unfollow ini. Kalau tidak sreg, ya unfollow saja! Sederhana saja. Yang saya soroti malah tentang pencitraan diri, menulis sesuatu yang sebenarnya berbeda dari dirinya sesungguhnya, berusaha untuk as good as can be and almost perfect with every goodwill they had done. For what? Sometimes This matter can be good for being positive all the time, but sometimes people see that you're trying to spread your pride. Masuk akal tidak? Masuk akal atau tidak, saya tidak pernah excuse myself untuk melihat dan membaca their excessive pride.

Hanya menulis status kemudian kabur.

Sunday, October 9, 2011

Motivasi Tak Terduga

Saya mungkin tengah berada di titik terbawah dalam hidup saya, lagi dan lagi. Saya gagal mendaftar untuk ikut sidang bulan oktober dan punah lah harapan saya untuk bisa memakai toga di bulan november. Saya terpaksa menunda membuat mereka (red-orang tua) tersenyum. Sebenarnya saya masih bisa ikut bulan november, dan lulus bulan november tapi rasanya telah mengecewakan Ibu dan Bapak, entah apa yang saya pikirkan untuk terus tenggelam tapi mereka berkali-kali menyakinkan kalau ini bukan masalah besar, ini proses belajar.

Sudah seminggu sejak ditutupnya pendaftaran, bukannya semangat untuk mengejar malah semakin malas. Saya seperti tidak punya tujuan dan target, semua semangat dan motivasi seperti hilang lenyap tak berbekas. Saya terus mencari alasan untuk disalahkan, mengapa saya mengambil judul sulit, mengapa saya tidak bisa mereka bisa, mengapa saya kurang beruntung, dan mengapa saya tidak berusaha leig keras. Saya terus menyalahkan diri sendiri tanpa ada usaha nyata untuk menyelesaikan semua ini. Saya bukan seperti ini. ini bukan saya.

Tadi malam, saya menemani pacar saya sparing basket di sebuah sport center di Bandung. Entah kenapa dia tidak seperti biasanya, dia kehilangan fokus dan sulit menyesuaikan dengan irama permainan. Tim basket kampus saya bermain bagus pada awalnya dan menghasilkan poin 30 lebih banyak dari tim lawan pada quarter I dan II, namun ketika sudah mencapai babak ke III dan IV mereka berhasil dikejar oleh lawan dan mereka kehilangan fokus pada permainan, kesalahan sendiri banyak dilakukan. Hingga detik-detik terakhir tim lawan berhasil meng-ungguli mereka, tapi dibalas lagi dengan kemenangan unggul 1 poin.hanya satu poin.

Tentunya hal ini membuat coach marah, selama pertandingan dia berteriak dari pinggi lapangan untuk memberi instruksi. Dan pertandingan malam ini, dengan banyaknya kesalahan sendiri dan defense yang buruk, coach memberi evaluasi seusai pertandingan. Saya mendengar apa yang coach bicarakan, dan kata-kata yang membuat saya tertegun adalah ketika coach berteriak :

" Mereka (tim lawan) itu ga hebat, tapi kenapa mereka bisa ngejar poin lo? tau kenapa? ya karena kesalahan lo sendiri! Ketika mereka mulai bisa menyerang beberapa kali, lo semua pada nyalahin diri sendiri. Nyalahin diri sendiri malah bikin main lo jadi buruk, bukannya makin bagus, lo malah jadi ga fokus dan mereka bisa dengan mudah buat poin "

Saya tertegun, memang benar jika saya terus menyalahkan diri sendiri, saya tidak akan pernah bisa maju, yang ada saya menjadi lebih buruk layaknya sebuah pertandingan, saya semakin sering melakukan kesalahan sendiri dan tidak fokus mencapai target. Saya keluar dari hall dengan perasaan yang lebih baik, saya harus berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai membakar semangat.

terimakasih sudah membawa saya ke pertandingan itu.
terimakasih coach buat kata-katanya.

Saturday, September 17, 2011

Got Any Inspiration ?


akhir-akhir ini saya sedang terserang virus TA, deadline 2 minggu lagi dong! hahaha cuma bisa ketawa dan yah kejar setoran. Di tengah-tengah hectic, saya masih sempet penasaran dan ngebayangin yang aneh-aneh, ga aneh juga sih cuma out of topic kalo buat momen-momen penting gini. Pacar saya yang hobi melihara ular lagi seneng-senengnya kumpul sama temen-temen barunya sesama pecinta reptil. Dan jadilah ada salah seorang temennya yang katanya nyentrik, thirty something, dan dosen desain di salah satu universitas swasta di Bandung. Om - biasanya dipanggil udah punya istri yang dan anak umur 6 tahun. Terus apa istimewanya sampe mesti di ceritain segala. Saya itu cuma seneng aja ngeliat pasangan itu, si om nyentrik, rambut gondrong, cat pirang, baju lusuh, motor jadul dan si tante itu dosen desain yang cuek, hair-dye, pake beberapa tindik, bawa mobil jeep dan sudah punya anak 6 tahun tapi masih berjiwa-sangat-muda. Apa karena mereka sesama seniman kali yaa? Sekali itu pacar saya bercerita kalau si om beberapa kali nyeritain istrinya dan bodohnya kelakuan mereka.Tiba-tiba si pacar langsung nyamber ngomong :

Pacar :' Kamu nyadar ga? kayak kita aja ya'
Saya : ' Maksudnya??'
Pacar : ' Ya kaya kita sama sama berantakan dan ngasal, mungkin kita nanti jadi kaya gitu kalo udah MENIKAH '
Saya : Hmmmmmmmm.....(diam tapi dalam hati I love this conversation anyway).

Entah kenapa saya senang kalo mendengar pacar menceritakan tentang kelakuan-kelakuan pasangan itu, saya seneng dengan kesederhanaan pemikiran mereka dan cara mereka menikmati hidup. Menurut saya, hubungan seperti ini yang meng-inspirasi. Menikah bukan hanya untuk meneruskan garis keturunan yang dibatasi kekuasaan suami dan kepatuhan istri, tapi juga menjadi sarana bagi dua pribadi berbeda untuk bertukar pikiran dan melengkapi sebagai sahabat. Saya gamau sok tau, tapi setidaknya itu jenis hubungan pernikahan yang saya inginkan nantinya.

Saya jadi curious, seriously! kadang ngelamun gimana kalo saya sama pacar bener-bener bisa komitmen seumur hidup dan ngejalanin hidup dengan cara kami. Punya keluarga kecil, rumah yang sederhana tapi smart dan sophisticated, dan kerjaan bagus tapi santai (ada ga sih?) hahaha. Sebenarnya saya udah wajar loh ngomongin nikah umur segini wong temen saya udah beberapa yang udah nikah dan hamil pula. Tapi yaa sekarang cuma sebatas lamunan, soalnya masih ada Tugas Akhir yang menanti untuk diselesaikan, se-selesainya itu mau ngapain ya liat nanti deh...


PS : Saya terus berdoa yang terbaik buat kita loh, car (kalo kamu baca) :)

Saturday, August 20, 2011

KSM


eh masi jaman ya cetak ksm?
telat lagi.

ada alasan ga buat ga ketawa ?
lucu .