Sunday, March 18, 2012
You tell me the tittle, Will you ?
Sunday, February 26, 2012
Balada Sang Pencari Kerja #1
Monday, February 20, 2012
Insecure Mind Talks
Sunday, February 19, 2012
Pencitraan dan Unfollow
Akhir-akhir ini, Twitter sudah jadi gaya hidup, mau melakukan ini mau melakukan itu selalu di ceritakan dalam 140 karakter. Sebenarnya tidak jadi masalah sih hanya saja, feature follow dan unfollow itu yang mengganggu kesehatan mental masyarakat. Seseorang bisa mem-follow account Twitter seseorang yang dia inginkan, hal ini kodratnya orang tersebut bersedia menerima update tulisan-tulisan dan pemikiran dari yang dia ikuti, harus menanggung risiko dong ya kalo setiap tulisan kadang mengganggu ketenangan sang follower. Mudahnya saja, sang follower bisa menekan tombol unfollow dan langsung terbebas dari neraka yang dia ikuti.
Namun terkadang follow dan di follow ini menjadi masalah besar di keseharian, dan bahkan merusak hubungan pertemanan dan persaudaraan. Penyakit hati bermunculan, dendam dan kesal karena di unfollow kenalan sudah menjadi topik hangat, kelihatannya sepele dan tidak pantas diperdebatkan, tapi pada kenyataannya, how much do the relations have been destroyed by this kinda silly thing? Too much.
Saya sendiri, pribadi sih tidak pernah memperdebatkan masalah follow-unfollow ini. Kalau tidak sreg, ya unfollow saja! Sederhana saja. Yang saya soroti malah tentang pencitraan diri, menulis sesuatu yang sebenarnya berbeda dari dirinya sesungguhnya, berusaha untuk as good as can be and almost perfect with every goodwill they had done. For what? Sometimes This matter can be good for being positive all the time, but sometimes people see that you're trying to spread your pride. Masuk akal tidak? Masuk akal atau tidak, saya tidak pernah excuse myself untuk melihat dan membaca their excessive pride.
Hanya menulis status kemudian kabur.
Sunday, October 9, 2011
Motivasi Tak Terduga
Sudah seminggu sejak ditutupnya pendaftaran, bukannya semangat untuk mengejar malah semakin malas. Saya seperti tidak punya tujuan dan target, semua semangat dan motivasi seperti hilang lenyap tak berbekas. Saya terus mencari alasan untuk disalahkan, mengapa saya mengambil judul sulit, mengapa saya tidak bisa mereka bisa, mengapa saya kurang beruntung, dan mengapa saya tidak berusaha leig keras. Saya terus menyalahkan diri sendiri tanpa ada usaha nyata untuk menyelesaikan semua ini. Saya bukan seperti ini. ini bukan saya.
Tadi malam, saya menemani pacar saya sparing basket di sebuah sport center di Bandung. Entah kenapa dia tidak seperti biasanya, dia kehilangan fokus dan sulit menyesuaikan dengan irama permainan. Tim basket kampus saya bermain bagus pada awalnya dan menghasilkan poin 30 lebih banyak dari tim lawan pada quarter I dan II, namun ketika sudah mencapai babak ke III dan IV mereka berhasil dikejar oleh lawan dan mereka kehilangan fokus pada permainan, kesalahan sendiri banyak dilakukan. Hingga detik-detik terakhir tim lawan berhasil meng-ungguli mereka, tapi dibalas lagi dengan kemenangan unggul 1 poin.hanya satu poin.
Tentunya hal ini membuat coach marah, selama pertandingan dia berteriak dari pinggi lapangan untuk memberi instruksi. Dan pertandingan malam ini, dengan banyaknya kesalahan sendiri dan defense yang buruk, coach memberi evaluasi seusai pertandingan. Saya mendengar apa yang coach bicarakan, dan kata-kata yang membuat saya tertegun adalah ketika coach berteriak :
" Mereka (tim lawan) itu ga hebat, tapi kenapa mereka bisa ngejar poin lo? tau kenapa? ya karena kesalahan lo sendiri! Ketika mereka mulai bisa menyerang beberapa kali, lo semua pada nyalahin diri sendiri. Nyalahin diri sendiri malah bikin main lo jadi buruk, bukannya makin bagus, lo malah jadi ga fokus dan mereka bisa dengan mudah buat poin "
Saya tertegun, memang benar jika saya terus menyalahkan diri sendiri, saya tidak akan pernah bisa maju, yang ada saya menjadi lebih buruk layaknya sebuah pertandingan, saya semakin sering melakukan kesalahan sendiri dan tidak fokus mencapai target. Saya keluar dari hall dengan perasaan yang lebih baik, saya harus berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai membakar semangat.
terimakasih sudah membawa saya ke pertandingan itu.
terimakasih coach buat kata-katanya.
Saturday, September 17, 2011
Got Any Inspiration ?
akhir-akhir ini saya sedang terserang virus TA, deadline 2 minggu lagi dong! hahaha cuma bisa ketawa dan yah kejar setoran. Di tengah-tengah hectic, saya masih sempet penasaran dan ngebayangin yang aneh-aneh, ga aneh juga sih cuma out of topic kalo buat momen-momen penting gini. Pacar saya yang hobi melihara ular lagi seneng-senengnya kumpul sama temen-temen barunya sesama pecinta reptil. Dan jadilah ada salah seorang temennya yang katanya nyentrik, thirty something, dan dosen desain di salah satu universitas swasta di Bandung. Om - biasanya dipanggil udah punya istri yang dan anak umur 6 tahun. Terus apa istimewanya sampe mesti di ceritain segala. Saya itu cuma seneng aja ngeliat pasangan itu, si om nyentrik, rambut gondrong, cat pirang, baju lusuh, motor jadul dan si tante itu dosen desain yang cuek, hair-dye, pake beberapa tindik, bawa mobil jeep dan sudah punya anak 6 tahun tapi masih berjiwa-sangat-muda. Apa karena mereka sesama seniman kali yaa? Sekali itu pacar saya bercerita kalau si om beberapa kali nyeritain istrinya dan bodohnya kelakuan mereka.Tiba-tiba si pacar langsung nyamber ngomong :
Pacar :' Kamu nyadar ga? kayak kita aja ya'
Saya : ' Maksudnya??'
Pacar : ' Ya kaya kita sama sama berantakan dan ngasal, mungkin kita nanti jadi kaya gitu kalo udah MENIKAH '
Saya : Hmmmmmmmm.....(diam tapi dalam hati I love this conversation anyway).
Entah kenapa saya senang kalo mendengar pacar menceritakan tentang kelakuan-kelakuan pasangan itu, saya seneng dengan kesederhanaan pemikiran mereka dan cara mereka menikmati hidup. Menurut saya, hubungan seperti ini yang meng-inspirasi. Menikah bukan hanya untuk meneruskan garis keturunan yang dibatasi kekuasaan suami dan kepatuhan istri, tapi juga menjadi sarana bagi dua pribadi berbeda untuk bertukar pikiran dan melengkapi sebagai sahabat. Saya gamau sok tau, tapi setidaknya itu jenis hubungan pernikahan yang saya inginkan nantinya.
Saya jadi curious, seriously! kadang ngelamun gimana kalo saya sama pacar bener-bener bisa komitmen seumur hidup dan ngejalanin hidup dengan cara kami. Punya keluarga kecil, rumah yang sederhana tapi smart dan sophisticated, dan kerjaan bagus tapi santai (ada ga sih?) hahaha. Sebenarnya saya udah wajar loh ngomongin nikah umur segini wong temen saya udah beberapa yang udah nikah dan hamil pula. Tapi yaa sekarang cuma sebatas lamunan, soalnya masih ada Tugas Akhir yang menanti untuk diselesaikan, se-selesainya itu mau ngapain ya liat nanti deh...
PS : Saya terus berdoa yang terbaik buat kita loh, car (kalo kamu baca) :)